Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Ungkapan Lama

Cerahku hanya di wajahku Berbinarpun aku tak mampu Kata-kata gila kian menjadi Melawan arti kata hati Burung berkicau dengan merdu Berdendang di kala fajar sendu Seolah mengusik rindu Sejenak megusap pilu Daun gugur dengan lembutnya Tangkai-tangkai rapuh Angin hitam memayungi hujan Rintihan lirih di ujung petir Menanti lukisan indah berwarna-warni Aku... Wajahku... Hariku... Cerah kepalsuan yang setia Mengantarku ke puncak malam tanpa bintang Udara dingin merengkuh Menusuk jantung hati yang tertutup Semua kembali pada daun-daun kering Kembali terseok angin Inginku menjadi daun yang tidak pernah membeci angin Sekalipun akan hancur. P.s.: Revisi dari puisi tak berjudul 4 tahun lalu...

Titik-Garis.

Katanya setiap manusia memiliki beberapa pos dalam hidupnya di bumi. Semacam fase transisi atau titik balik yang biasanya dilewati dengan perubahan, masalah atau cobaan dari Sang Kuasa. Walaupun kita bisa prediksi kapan kita akan sampai di pos-pos kehidupan ini, namun kembali lagi kepada takdir dan bagaimana kita menyikapi setiap hal yang datang dalam hidup kita. Karna bisa jadi tanpa disadari kita sudah melewati pos tersebut atau jeleknya kita menganggap setiap hal buruk kecil yang terjadi pada kita merupakan pos yg harus dilalui. Kalau sudah begitu berarti jadi banyak sekali pos-pos yang dilewati bukan? Hehe. Aku memiliki pemikiran bahwa hidup memiliki titik-titik yang akan terhubung menjadi garis. Seperti halnya fase-fase yang kita lewati sebagai titik yang kita tapaki dan memiliki maksud atau tujuannya sehingga menciptakan garis. Dan garis tersebut bisa terbentuk tergantung bagaimana kita mengartikannya, apakah akan membentuk segitiga, persegi, lingkaran yang tak pernah putus ...