Patiently over Jealousy
Hei, apa kabar?
Udah dua bulan lebih negeri kita terdampak wabah. Selama itu
pula banyak orang yang dipaksa beradaptasi belajar, bekerja, beribadah di
rumah, banyak orang kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, mendadak stress
karna bosan dan mendadakan muncul tindakan kriminal lainnya. Semua orang, like semua strata sosial, semua usia
mengalami dan merasakan hal yang sama. Senasib? Memang. Adil? Belum tentu.
Untuk sebagian orang yang mengandalkan pekerjaan harian, wabah
ini jadi cobaan yang berat bagi mereka. Jangankan takut sama wabah, memikirkan
besok makan apa rasanya lebih menakutkan.
Bagi sebagian lainnya yg terdampak PHK atau pemotongan gaji,
mengandalkan uang tabungan yg entah sampai kapan akan mencukupi kebutuhan
sehari-hari.
Sebagian lainnya, yang masih bisa hidup berkecukupan dan
terbiasa membelanjakan hartanya untuk kepuasan pribadi, mulai gelisah mau
diapakan pundi-pundinya tsb.
Sebagian lainnya lagi yg masih berpenghasilan normal, ngga
henti-hentinya mengucap syukur nasibnya masih jauh lebih baik dan diberi
keleluasaan untuk saling berbagi.
YA, mata uang terdiri atas 2 sisi, everything has good sides and bad sides. Depend on us which one we are going
to choose and deal with.
Selain tolong menolong, masyarakat juga diminta untuk saling
kerja sama. Semua pasti kesusahan, semua pasti bosan. “Dan Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika mereka tidak mengubah
dirinya sendiri.” Berdoa saja cukup? Please
lah. Atau hanya usaha tanpa berdoa? Sombong sekali.
Aku paham, sangat paham, enam puluh hari lebih cuma ‘nguplek’ di rumah serta mematuhi protokol kebersihan segitu intensnya bukan hal yang mudah, terlebih buat
mereka yg terbiasa berpergian keluar rumah, bersosialisasi ataupun mereka yg tidak terbiasa dengan pola hidup bersih--minimal cuci tangan. Dan pemerintah juga ngga ada hentinya
putar otak ciptain solusi buat wabah ini. Buktinya apa? Semua kebijakan yg ups and downs yg sudah dikeluarkan,
meski dipenuhi pro dan kontra itulah bukti bahwa pemerintah memikirkan kita,
mereka juga manusia bukan ahli di segala bidang termasuk penanggulangan virus. Mereka mencoba
berbagai cara layaknya hal yang baru pertama dilakukan, pasti ada berhasil dan
gagalnya.
Dan baru-baru ini, setelah PSBB dilonggarkan, masyarakat
langsung memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, sangat baik. Saat
PSBB berjalan saja masih banyak yg keluar rumah demi urusan yg bisa dibilang
tidak darurat, apalagi sudah dilonggarkan? Kebayang gimana membludaknya arogansi
untuk keluar rumah dan melakukan budaya negara kita tercinta, yaitu budaya berkumpul
dan berhedon ria sebelum lebaran. Wah jangan ditanya gimana reaksi masyarakat
yg sudah sangat patuh menerapkan karantina mandiri. Kami kesal sudah pasti,
merasa apa yg sudah diupayakan ini sia-sia, merasa terkhianati dan dibuat iri!.
Aku bahkan ngga bisa bayangin gimana para pekerja yg rela menantang resiko
terpapar virus atau mereka yg sudah tidak lagi memiliki penghasilan melihat kelakuan
para manusia egois itu. Itupun kalau mereka masih bisa memikirkan nasib orang
lain, seperti kataku tadi memikirkan ia dan keluarganya bisa bertahan hidup
esok-esok harinya aja udah terasa berat. Rasanya seperti manusia egois ini mengejek
masyarakat yg sedang kesusahan. Apa katanya? Ketika diberlakukan PSBB mereka menuntut bansos yg
mencukupi. Heeei tapi kelen mampu untuk membeli kebutuhan sandang, which is masih di bawah kebutuhan utama (pangan). Lalu katanya terkena dampak ekonomi, lantas uang dari mana bisa beli tiket
pesawat? Mohon maaf nih, bukan kelen aja yg rindu keluarga, bahkan tenaga medis
yg jadi pahlawan saat ini saja ngga bisa pulang dari awal wabah ini terdeteksi
dan mereka bertaruh nyawa. Astaghfirullahaladziim… Memang benar ternyata, jika
ingin melihat ‘aslinya’ seseorang lihatlah
saat sedang susah apakah masih bisa berbuat baik atau malah sebaliknya,
bertindak egois dan arogan.
Jujur, jangankan melihat reaksi manusia yg semena-mena saat
pelonggaran PSBB ini, sebelum ini pun aku-kami yg sudah menghabiskan 2 bulan
lebih #dirumahaja dibuat iri sama teman-teman yg masih bisa meet up dengan rekan-rekannya, jajan dan
makan di luar atau melakukan aktivitas di luar rumah bukan untuk sebuah hal
urgensi. Jangankan nekat keluar rumah demi melampiaskan rindu, untuk keluar
beberapa meter dari rumah atau menerima tamu saja mikir puluhan kali. Untuk aku pribadi yg ke mana-mana bawa hand sanitizer dan harus cuci tangan, mengatasi virus ini jadi tambahan beban anxiety aku pribadi. Kami juga berat hati untuk keluar rumah dengan resiko berpeluang membawa virus saat
pulang lalu disebarkan ke orang-orang terdekat. Mungkin saat kita terpapar
virus kita bisa survive, tapi belum tentu orang-orang di sekeliling kita. Please don’t be ignorance!. Aku akui aku
iri dengan mereka yg masih bisa bercengkrama di luar rumah, tapi aku juga sadar aku harus sabar, sabar untuk
terus berusaha tidak menjadi rantai penularan virus dengan stay di rumah, sabar untuk menahan segala ego dan nafsu, sabar
menahan rasa jenuh dan stress karna urusan pekerjaan yg tidak menjadi semakin
mudah saat dikerjakan dari rumah, sabar untuk menjadi warga dan hamba yg patuh.
Karena aku percaya, usaha kami yg sudah setia isolasi mandiri akan dihitung
sebagai bentuk ikhtiar dan insyaAllah dinilai ibadah dengan tetap berdoa dan memohon ampunan
serta pertolongan kepada Allah SWT. Dan aku masih berusaha mengerti bahwa tidak
ada yg sia-sia untuk Allah, pasti akan diganjar dengan imbalan yang sangat luar
biasa nantinya. Aamiin allahumma aamiin.
Stay safe, stay health,
stay happy, stay sane everyone!
Mari kita doakan agar para manusia egois cepat diberi hikmah
dan dilembutkan hatinya untuk lebih berempati.
Komentar
Posting Komentar