Pendidikan untuk apa?
Pendidikan. Bisa dilakukan di mana aja, oleh siapa aja
dan bagaimanapun caranya. Pendidikan gak cuma bisa lewat sekolah, bimbingan
belajar atau instansi formal lainnya karena sejatinya dalam pendidikan ada dua
subjek : pencari ilmu dan pembagi ilmu.
Ilmu. Menurutku pengetahuan, pengalaman,
pemikiran bisa dikategorikan ilmu. Setiap manusia berakal pasti punya ilmu.
Tinggal bagaimana ilmu itu diaplikasikan untuk diri sendiri maupun orang lain.
Dan ilmu gak akan ada habisnya, itu berarti selagi hidung masih menghirup
oksigen dan mulut menghembuskan karbondioksida, selama itu pula bisa mencari
dan menebar ilmu.
Memang
benar ilmu bisa didapat di mana aja tanpa perlu lewat jalur formal. Tapi
alangkah baiknya kalau ilmu itu bisa lebih diarahkan lewat wadah pendidikan entah
formal maupun informal. Aku pernah dengar dari salah satu guru SMK saat upacara
dulu bahwa “Iman tanpa ilmu sangat disayangkan, sedangkan ilmu tanpa iman bisa
keblinger”. Secara gak langsung dalam mencari dan menebar ilmu ada
kaidah-kaidahnya dan sebagai orang beriman alangkah baiknya diiringi dengan
ilmu yang bisa bermanfaat. Karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat
bagi diri sendiri dan orang lain. Betul begitu?
Di
era modern ini masih banyak orang yang berfikiran untuk gak perlu sekolah
jauh-jauh atau tinggi-tinggi, yg mana suka bawa bawa gender. Jujur aku
agak sensitive kalau udah menyangkut hal tsb. Terlebih yg sering dijadikan
momok adalah perempuan. Sering gak sih denger orang bilang “Anak perempuan ngapain sekolah tinggi-tinggi toh ujung ujungnya cuma
3-UR (dapUR, kasUR, sumUR)”. Ealaaah itu emang udah kodratnya wanita, mau
sekolah atau ga, mau berpendidikan atau ga. Gak ada yg bisa merubah kodrat itu.
Dan lagi, alangkah baiknya kalau seorang calon istri sekaligus calon ibu punya
ilmu yang bisa menaikkan derajat anak & keluarganya. Orang tua mana yg mau
lihat anaknya turun satu tingkat dari orang tuanya dulu? Bukannya dalam Islam
juga dijelaskan bahwa Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Karena
bagaimanapun porsi ibu lebih banyak dari bapak selain yg mengandung, melahirkan
dan mengasuh. Bahasa pertama anak apa? Bahasa Ibu kan? Pernah dengar bahasa
Bapak?. Oke bukan maksud merendahkan kaum laki-laki di sini. Sebagai calon
suami dan calon bapak juga pastinya harus punya ilmu dan iman yang bagus untuk
meng-imami keluarganya, itupun bukan tanggung jawab yg ringan. Sama besarnya
dengan tanggung jawab seorang perempuan. Tapi di sini aku ingin membahas gender
permpuan yang dikaitkan dengan pendidikan tadi. Back to topic, masih banyak orang tua yg lebih ‘memperjuangkan’ anak
lelakinya dibanding anak perempuannya. Yeah, salah satunya karena alasan kodrat
tadi. Kodrat memang takdir yang gak bisa di rubah, tapi kemampuan, rezeki,
derajat hidup masih bisa diubah. Ya memang sekolah sampai dapat gelar sarjana,
magister, doctor, ilmunya gak
sepenuhnya bisa dipalikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun jangan
dilupain juga kalau ilmu bersosialisasi, berdemokrasi, berkomunikasi, memimpin,
mengelola, memcahkan masalah sangat bisa diterapkan dalam kehidupan, technically ilmu dari praktiknya yang
pasti akan sering dijumpai. Mungkin kita gak bisa jadi ahli eksakta atau
ilmuwan untuk generasi selanjutnya tapi kita masih bisa mewarisi ilmu yg
sebagian besar lebih sering kita sebut sebagai pengalaman. Pengalaman kan
bagian dari ilmu juga. Aku nyebutnya ilmu kehidupan.
Bukannya
mau membela para penempuh pendidikan tinggi dan menjelekkan yang berpendidikan
rendah. Jujur, apa yang aku rasain sebagai lulusan sarjana sedikit banyak
membantu untuk terus menerobos peristiwa hidup. Selama sekolah sampai tingkat
itu aku memang belajar banyak ilmu teoritis tapi yang lebih dan sering berguna
adalah di saat aku harus dihadapkan dengan banyak orang bagaimana aku harus
bersikap dan berkomunikasi. Aku bisa lebih luas berbaur dengan lingkungan,
sedikit banyak “nyambung” kalau diajak ngobrol. Jadi bisa lebih menalar /
membandingkan aktivitas dan permasalahan sekitar dengan teori yg udah didapat.
Belajar mempertimbangkan banyak hal dalam penyelesaian masalah. Lebih dalam
memahami sekitar. Intinya aku bisa berfikiran lebih luas dari sebelumnya,
terlepas dari teori-teori akademik yang gak sepenuhnya nyangkut (gak mungkin
kan gak ada satupun? Ahahaha).
Dan
lagi, lingkungan sekitarku masih memiliki faham “buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh juga banyak lulusan perguruan
tinggi yang kemudian menganggur”. Duh gusti ini lagi. Unemployment issues. Aku akuin memang gelar gak menjamin tingkat kemapanan
seseorang. Seperti yg aku bilang di blog aku sebelumnya bahwa cari kerja itu
gampang! Yang bikin susah itu ego dan gengsinya. Gak menampik akupun demikian.
Tapi janganlah jadi stereotype
menyepelekan tingkat pendidikan atau gelar sesorang. Dalam proses mendapatkan
gelar tsb gak hanya otak yang berperan, biaya yg dikorbankan, tapi mental dan
sikap juga diperhitungkan. Ada yang otaknya cerdas tapi sulit untuk
bersosialisasi dan mengaplikasikan karena terpaku sama teori. Ada yang gak
begitu peduli sama teori tapi kalo suruh praktik paling jago. Ada yang susah
payah cari uang untuk tetap mencari ilmu. Ada yang leha-leha di atas semua
fasilitas orang tuanya. Ada yang bisa kuliah sesuai sama minat dan bakatnya.
Ada yang harus kuliah dengan dikte orang tua/sekitarnya. Gak sesimple dan
sesederhana itu jadi sarjana. Terlalu warna-warni dan nano-nano dengan segala
drama nya. Dan gak bisa dipungkiri sedikit banyak mempengaruhi outcome yang didapat setelah lulus, yang
lebih disorot sama orang-orang yg hanya jadi penonton. “Kenapa masih banyak
pengangguran padahal punya gelar?”. Terlepas dari kurangya lahan pekerjaan,
menurutku banyak kemungkinan yg bisa aja dialami. Mungkin dia menganggur karena
ingin mendapatkan pekerjaan yang betul betul sesuai sama background pendidikannya, karena sayang ilmunya tidak
diaplikasikan. Mungkin dia menganggur karena belum ada yang pas, diiringi ego
dan gengsi yang meluap. Mungkin dia menganggur karena sedang mempersiapkan
kualitas dirinya untuk impian di depan mata. Mungkin dia menganggur karena
sejatinya bersekolah hanya formalitas agar tidak dimarahi orang tua. Mungkin
dia menganggur karena ingin beristirahat sejenak. Mungkin dia menganggur karena
belum siap masuk dunia kerja. Dan masih banyak mungkin mungkin yang
lain. Kita gak pernah tahu apa yg terjadi dengan kehidupan sesorang dan gak
berhak menjadi hakim dari segala keputusannya, yang bahkan gak lebih dari
penonton. Tiap orang pasti punya prioritasnya masing-masing, tau mana yang
menurut mereka baik-buruk, punya hal-hal yg harus dipertimbangkan bukan cuma
dengerin apa kata orang yang bahkan gak ngerti apa-apa. Semoga
pemikiran-pemikiran yang aku bold
tadi bisa segera diperbaiki. Sayang aja kalau masih terpaku sama pandangan gelap
padahal masih buanyak pandangan yg lebih terang. Dan ukuran pendidikan
seseorang gak hanya diukur dari seberapa tinggi gelar yg ia capai. Ilmu selalu
bisa didapat dan diberi ke mana saja.
Aku
selalu percaya bahwa gak ada sesuatu yang sia-sia, sekalipun hasilnya gak
selalu memuaskan tapi yg aku tahu itu adalah yg terbaik J
Komentar
Posting Komentar