Sesosok...
Pernah merasa
kecewa sedalam-dalamnya?
Pernah merasa kesal sampai bingung apa sebabnya?
Pernah merasa sedih sampai gatau harus ke mana mengadu?
Pernah merasa benar-benar sendiri?
Pernah merasa jadi orang paling useless, paling menderita?
Seolah mendengar dari segala penjuru, mereka berteriak :
AKU-PERNAH-BANGET
Huft...
Hanya karena banyak dan hampir semua orang merasa hal yang
sama lantas itu bisa disebut manusiawi?
Satu kata yang paling pantas mewakili kelemahan hati semua
umat yang beralih jadi tameng tiap kali melakukan khilaf?
Menanggapi pertanyaan-pertanyaan klise di atas. Kali ini
persilahkan sesosok untuk berbagi sedikit banyak curahan gundahnya:
Mungkin udara di luaran sana udah muak dengar dan lihat
sesosok umat naif satu ini. Mencari perandaian dan perumpaan untuk menepatkan
posisinya. Mengilas pembenaran untuk menentramkan kegundahan hatinya. Mencari
teman serasa yang tidak bisa menghakimi sekalipun mampu, sangat mampu. Beberapa
tempaan yang membuat hatinya keras kian membatu. Menamai segala unsur rasa
sesuai kehendaknya. Dibalik ke-manusiawi-an yang digung-agungkan, sosok ini
berfikiran apakah tidak terlalu sering ini dijadikan suatu kemakluman? Sudah
berkali-kali terjatuh lalu bangkit, terlempar dan tertarik belum juga menemukan
kestabilan. Tidak, tidak seharusnya mengharapkan ketentraman yang stabil di
dunia ini. Semua yang kekal hanya ada di tempat terindah di atas langit ke
tujuh sana. Surga.
Lagi. Sesosok ini menemukan lubang dalam hatinya, dalam
hidupnya. Puluhan pertanyaan menyusup di tengah jutaan pertanyaan sebelumnya,
yang bahkan belum komplit terjawab; atau memang tak akan ia temukan jawabannya
di dimensi ini.
Lagi. Sosok ini berwujud menjadi korban sekaligus tersangka
atas dirinya. Apa katanya? Boomerang,
ya. Merasa paling menderita, terdzolimi, tersakiti, sendiri. Berbarengan dengan
amuknya yang justru menimbulkan perpecahan lainnya.
Lagi. Sosok ini tersesat untuk menentukan sikapnya. Bersikap
adil sebgaimana mestinya. Membawa hati dan fikirannya untuk tetap di jalan yang
lempeng, normal. Terseok campur aduk mengikuti arus atau tetap pada track yang
ia punya sebelumnya. Ia kehilangan pijakan kokohnya.
Sesosok umat ini seperti mendadak tak punya apa-apa, tak
punya siapa-siapa. Semua terasa direnggut tangan tak kasat mata dalam kurun
kurang dari empat puluh delapan jam. Semua seolah menulikan telinga dan menutup mata akan
sosoknya. Tak ada yang mengerti, entah tak bisa atau tak mampu. Tak ada yg
menemani, entah tak ingin atau tak sudi.
Semua kesakitan tak kentara ini berbanding lurus dengan
kebugaran fisiknya. Alami.
Lagi. Sosok ini ditarik kesadarannya kembali bahwa
bergantung pada sesama umat bertulang yang disisipkan nyawa itu percuma. Sudah
jelas punya Zat yang Maha Kokoh nan Agung, kenapa masih kurang.
Dihantamkan kenyataan bahwa bahkan diri ini tidak memiliki hak
atas dirinya, hanya Sang Pencipta Yang Maha Esa.
Disisipkan lagi kalimat pemahaman itu bahwa setiap makhluk
diciptakan dengan maksud dan tujuan tertentu, menjadi benang antar sesama.
Jika sesosok ini sudah bisa menyadarkan dirinya kenapa harus
merasa hidupnya sebobrok itu? Atau lagi. Jangan-jangan memang sosok ini saja kurang
peka atas ketukan untuk mengisi kekosongan yang ia sering keluhkan itu. Mengisi
kekosongan bukan dengan segala romansa duniawi tapi bekal ‘tuk akhirat nanti.
Butuh asupan religi baru yang bisa lebih meyadarkannya. Kesadaran abadi.
Sudahlah! Toh izinkan sosok ini berkeluh dan mengeluarkan
apa yang mungkin susah untuk ia jabarkan sendiri. Tolong biarkan sesosok ini
menguras tenaganya hanya untuk marah dan sedih, untuk sementara. Semoga sesosok
ini tetap punya pegangan dan segala ingatan untuk selalu kembali tersadarkan.
Salam, Sesosok.
Komentar
Posting Komentar