Wabah dan Hikmah

Mereka bilang tahun ini especially bulan ini adalah bulan terberat. Pardon me, that’s too short to decide, isn’t it?

Ya memang tahun ini bukan tahun yang mudah, karena adanya virus yang mewabah di seantero negeri bahkan dunia. Covid-19 (Corona Virus Diseases 2019). Virus yang merupakan pandemi dari China. Bukan kategori virus yang mematikan tapi luar biasa penyebarannya, itu yang jadi momok menakutkan karena lumayan susah di-handle.

Banyak aktivitas terganggu karena wabah tsb, dari sektor kecil sampai besar, dari perekonomian rumah tangga sampai anggaran negara. Semua jadi terbatas dan dibatasi. Nggak peduli rakyat kecil atau golongan parlente. Nggak pandang jabaatannya apa, semua sama, satu nasib. Dan dari semua update berita sampai drama yang bermunculan, berbagai bisikan pop up di kepalaku, mereka berisik banget minta dituangkan ke dalam tulisan. Lebih daripada itu, dengan adanya wabah yang membuat kita untuk stay di rumah ini, jadi lebih banyak waktu untuk memikirkan ulang semuanya, like overall, what we’ve done, been missing, been through it.

So… Sebenernya dengan adanya wabah dan segala dampaknya ini, bukan suatu hal yang pedih pedih amat, nggak seburuk itu kok. Dari hal kecil aja misalnya soal kebersihan. Orang kita kan katanya terlihat kebal terhadap virus karna terbiasa hidup “jorok” dengan cueknya yang apapun tinggal comot, main pegang, main sentuh/makan sembarangan. Setuju sih kalau dilihat dari strata ekonomi dan kesadaran kesehatan yang rendah yang mana membuat banyak segi masyarakat tetap hidup walupun makan tanpa cuci tangan (kasarnya gitu), tapi terlalu sombong ngga sih kalo sampai mendeklarasikan bahwa Orang kita anti virus sekalipun dengan Covid19? What a pity!. Nah tapi semenjak adanya wabah ini, Orang kita lebih sering terima edukasi hidup bersih, jadi lebih sadar  pentingnya cuci tangan pakai sabun at least tiap mau makan dan tiap memegang barang-barang penuh bakteri lainnya. Jeleknya langsung panic buying beli hand sanitizer buat bersihin tangan yang nyatanya nggak kepake kepake amat karna mau ke mana juga wong dikarantina begini. Hand sanitizer itu kan lebih diutamakan dipakai saat di luar rumah dalam keadaan jauh dari air dan sabun. Dan aku Cuma bisa ketawa dalam hati buat orang-orang yang dulu suka ‘nyinyirin’ aku yang ke mana-mana bawa handsani & cuci tangan kaki tiap dari luar, but also I’m happy they can practice all of that now ahahaha.

Di tengah pandemi yang ngga sedikit bikin orang panik ini, juga banyak beredar info yang belum tentu confirmed kebenarannya. Antara info itu membantu atau merugikan atau lebih parahnya justru bikin panik terutama buat orang-orang yang punya anxiety. Apalagi dengan aktivitas yang dibatasi hanya di rumah memungkinkan informan memiliki waktu lebih untuk mencari segudang informasi. Baiknya kalo bisa menyaring dan mencari info yang valid dan bisa saling mengingatkan ke sesama jika ada yang sebenarnya hoax atau tidak sesuai ilmunya. Tentunya dengan cara yang nggak menggurui atau merasa paling benar. Sharing is caring, and caring isn’t forcing ehe. Yang menyenangkannya adalah, bisa melihat banyak info ataupun caption positif dan menenangkan. Yang biasanya keseharian netizen berlomba berbagi aktivitasnya, sekarang adem banget bisa lihat postingan di medsos yang postif dan saling dukung dalam keadaan kayak gini.

Hal positif lainnya yang aku bisa lihat sekaligus rasakan, wabah ini perlahan membuat para muslimah khususnya menyadari kodratnya. Dengan nggak keluar rumah semaunya, tidak bersentuhan terutama dengan lawan jenis, dan menutup tubuhnya. Ya, karena wabah ini membuat kita menjaga diri dari dunia luar (bakteri, virus, kuman, droplets, dll) juga membatasi jarak dengan orang lain. Bukannya suudzon ataupun sombong takut tertular, tapi jangan lupakan kalo kita juga bisa jadi carrier atau penyebar virus Covid19 tanpa gejala.

Dari beberapa good sides Covid19 di atas, ternyata banyak sekali hal-hal di luar kepanikan, ketakutan dan ketidak berdayaan melawan wabah (kecuali dengan izin Allah SWT), yang bisa dilihat dan diambil hikmahhnya. Yes, everything has good and bad side, balik lagi ke kita mau fokus ke sisi yang mana. Aku dan keluargaku ngga luput dari dampak wabah ini; adik-adik yang terpaksa belajar dan mengerjakan berbagai tugas di rumah tanpa bimbingan langsung dari guru, ibu yang masih harus masuk kerja dengan segala keribetan saat berangkat dan pulang yang mana harus membersihkan diri dari paparan luar, dan aku yang dihimbau untuk bisa work from home (hampir 3 minggu btw). Semua kegiatan kami yang dibatasi masih masih banyak dimudahkan, Alhamdulillah. Dengan adanya isolasi diri atau karantina ini, kualitas komunikasi dengan keluarga jadi lebih intens, lebih sering untuk saling mengingatkan, menjaga dan mendoakan. Aku yang biasanya paling males remote work karna harus korban kuota jadi disyukuri banget sama ibu karna bisa nemenin adik biar belajarnya bener (ditambah berantem dan sebel-sebelan udah pasti). Ibu juga jadi lebih aware dengan kesehatan dan kebersihan keluarga maupun teman-temannya, langsung inisiatif bikin masker kain cuuy karna udah ngga berpeluang beli masker medis. Semua kondisi yang aku alami secara pribadi jauh dari kata buruk/nggak mengenakkan, masih banyak sekali orang di luaran sana yang terpaksa bekerja mencari nafkah demi keluarga padahal merka rentan terpapar virus, orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan dari rumah terpaksa harus dirumahkan yang mana pendapatan mereka juga berhenti, para tenaga medis yang berjuang lebih dari 7/24 jam menerima dan membantu pasien serta aparat keamanan yang menjaga kestabilan lingkungan. Banyak pihak yang sangat bekerja ekstra dan membutuhkan dukungan dan perhatian. Terharu melihat dan menjumpai orang-orang berhati baik dan dermawan, para relawan yang rela mengitari kota untuk menyalurkan bantuan. Ngga ada ruginya kita bantu juga memberikan sebagian rezeki untuk mereka yang lebih kesusahan dari kita--yang membutuhkan dukungan lebih dan urgent yang mungkin belum terjangkau oleh pemerintah- Menyebar informasi pengumpulan donasi, terlebih dari doa dan dukungan moril yang sudah kita serukan untuk mereka.

Satu lagi yang hal paling indah, waktu untuk ibadah bisa lebih khusyuk dan intens selama di rumah. Pastinya dengan adanya musibah yang menimpa, sudah naluriah manusia untuk lebih sering memanjatkan doa dan pertolongan pada Sang Maha Kuasa. Dan semoga setelah pandemi ini berakhir, semua kembali lebih baik, kita tetap mengingat dan lebih meningkatkan lagi kualitas hubungan dengan Sang Pencipta. Aamiin.

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qasas:56).

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah SABAR dan SHOLAT sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS Al Baqarah [2] ayat 153)

"Allah tak membebani hamba kecuali menurut kemampuannya". (QS Al-Baqarah: 286)

 "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS.  Al Insyirah ayat 5-6)


Tahun ini berat dan baru bagi kita semua termasuk aku dan keluargaku, tapi kita bukan yang pertama diberi wabah segini dahsyat dan bukan makhluk lemah yang nggak diberikan kesempatan untuk berikhtiar dan berdoa.

Stay safe, stay happy, stay healthy and keep positive vibes J


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patiently over Jealousy

Enjoy Life

Ungkapan Lama