Being Unemployement


Drama is back.
Aku tahu bukan aku sendiri yang mengalami ini, aku Cuma satu dari jutaan orang yang bernasib sama. PENGANGGURAN. Di negara-ku itu jadi momok banget sih. Lapangan pekerjaan yg sempit, jumlah tenag kerja yang membludak. Pada dasarnya cari kerja itu gak susah, yang bikin sulit adalah cari kerja yang sesuai sama MAU ataupun kriteria si pencari kerja. Dapatin info lowongan kerja juga banyak jaman sekarang gini, dari telemarketing, CS, SPG/SPB atau admin olshop, yang jadi ribet adalah gengsinya, atau yang lebih seram lagi ‘espektasinya’. Jadi koki espektasinya bisa cemal cemil, jangankan nyemil waktunya habis untuk masakin orang. Jadi wirausaha espektasinya bisa jadi pengusaha sukses punya anak buah banyak dan tinggal leha-leha, padahal otak dari semua usaha ada di pemilik usaha itu sendiri. Jadi PNS espektasinya kerja teratur, terjamin dan jenjang karir pasti, padahal yang lebih berat adalah beban moral yang bertanggung jawab sama negara. Gak ada yang mustahil. Semua espektasi di atas bisa terwujud, beberapa kesampaian, lebih banyak lagi yang tinggal wacana. Kenapa? Karena espektasi gak selalu berbanding lurus dengan ‘realita’. Selain usaha kerja keras banting tulang yang bisa wujudin espektasi-espektasi kita itu, ada tangan Allah yang lebih kuat dibanding segalanya. Karena serapi dan sesiap mungkin rencana yang kita buat, kalau menurut Allah itu belum tepat ya gak bakal tercapai sedemikian rupa. Karena seindah dan semulia apapun harapan yang kita punya, kalau menurut Allah gak cocok ya gak akan seindah itu. Bukan berati tidak tapi bisa berarti nanti.
Ya. AKU jadi salah satu makhluk yang lagi berada di dalam semua keadaan problematika di atas. Yang sudah muak sama sistem kerja yang barubaru ini aku tinggalkan. Yang nekad resign tanpa ada kejelasan next job nya. Yang sempet mikir untuk ‘ambil nafas’ sejenak. Yang ngisi waktu dengan ngelakuin berbagai hobi dan mengatur ulang semua-mua benda dan rencana. Yang mulai bosan sama rutinitas jadi pengangguran yang ginigini terus ; bangun tidur, beberes, bebenah, sambil cari info loker, yang pas di-apply, main gadget jelajah dunia bermodal internet sampai menjelang petang dan tepar istirahat untuk besoknya diulang lagi. Yang gak mau bergantung dan segitu balas budinya sama orang dan kelihatan lemah. Yang hampir hopeless gak dapat panggilan interview karena kualifikasi yang gak sesuai. Yang kadang menyayangkan pengalaman kerja 4 tahun yang gak sesuai sama jenis pekerjan yang dicari. Yang coba peluang job sana sini aka banting stir. Yang cenat cenut terus palanya mikirin ini itu. Yang punya keinginan untuk bisa kerja di tempat yang berhubungan sama hobi. Yang punya espektasi bisa kerja sesuai gelar dan qualified dengan kemampuan yang dimiliki. Yang gak hanya nanggung espektasi sendiri tapi ditambahin lagi sama espektasi orang tua. Yang sampai di titik GALAU untuk memutuskan mau ke arah mana karir akan aku bawa. Yang mulai tertekan dengan segala espektasi yang ditanggung.
Antara jadi abdi negara atau pekerja swasta. Dari sekian jenis pekerjaan cuma dua yang nyelip, tapi cukup banyak yang bisa dipertimbangkan. Selain aspek masa depan, kenyamanan, tanggung jawab, jenjang karir dan apapun itu. Yang paling mengusik adalah NIAT – kerelaan – keikhlasan. Jujur sih di dalamnya masih terselip goals yang udah dipikirin. Sejak lulus SMK memang lebih suka sama kegiatan yang flexible, kurang suka sama yang terkekang, mungkin karena udah lebih dari 10 tahun mendedikasikan diri untuk semua aturan yang ada di sekolah dan saat ada banyak kesempatan ingin jadi lebih eksplore. Di awal mulai fase baru aka resmi jadi pengangguran, optimisme nya masih menggebu dan selektif cari job yang sesuai background pendidikan dan abilities. Makin ke sini belum ada kemajuan, mulai apply ke mana aja yang agak berat atau belok dari background tapi usaha buat nambah knowledge biar gak kebanting amat sama kualifikasinya. Belum lagi malu atau gengsi kalo ditanya sekarang kerja di mana, pertanyaan dari ortu udah dapat penggilan kerja atau belum almost everyday disertai espektasi ortu yang belum pudar. Dorongan teman untuk kembali ke pekerjaan lama sampai coba nurutin espektasi ortu yang mana di awal gak ada niat atau goal ke sana. Gak mikirin lagi tuh passion yang kemarin digaung-gaungkan, intinya bisa kerja pakai niat udah bagus. Yah bisa dibilang hampir give up sama kesempatan untuk nerusin goals dan bismillah ikutin maunya ortu dengan segala kekecewaan, ego, kesedihan yang harus diredam. Lagi lagi harus menghadapi ESPEKTASI VS. REALITA. Tapi namanya juga kepala batu, alhasil espektasi ortu kujadiin plan B bukan jadi pengganti goal aku yang sebenarnya, bagaimanapun ridhonya Allah adalah ridhonya orang tua. My goal (yang kadang suka kejauhan dan nethink mulu) tetap menempati plan A. Dan aku cuma bisa berdoa sama sang pemilik kuasa untuk dimudahkan mana plan yang menurut Allah terbaik untuk aku sambil teteup cari pertimbangan-pertimbangan lain, terlebih harus konsekuen dengan apapun yang didpaat nanti atapun ngasih pengertian ke ortu kalau kalau espektasinya gak sampai. Banyak yang bilang make a decision either choosing choice is difficult thing, padahal yang lebih sulit adalah consist on decision- stand on it. Sungguh gak mudah bertahan di mana banyak peluang untuk menggoyahkannya, kepercayaan diri, ego, ambisi bahkan persepsi orang sekitar yang kapanpun bisa menggelitik.
Oke see ya then. Hopefully on the next good news J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patiently over Jealousy

Enjoy Life

Ungkapan Lama