Kala itu aku terketuk


Kali ini aku ingin sedikit berbagi cerita dan pengalaman, yang belakangan ini alhamdulillah banyak juga dialami teman-teman, khusunya perempuan. Yang sering kita dengar dengan istilah “berhijrah” lantas disambungkan dengan kata “istiqomah”.
Jadi,sekitar lima tahun lalu aku mengalami kisah ini. Sejujurnya aku merasa beruntung lahir di keluarga dengan basic  agama Islam yang baik, walaupun gak semendalam guru, priyai atau ustaz. Aku yang dari kecil tidak pernah dianjurkan, disuruh atau dipaksa untuk menutup aurat terlebih mengenakan hijab oleh orang tuaku. Aku yang masih fakir ilmu tentang agamaku. aku yang masih menalr ajaran agama dengan logika. Aku yang berfikiran bahwa dengan memakai pakaian yg sopan sudah cukup menutup auratku, karna Ibuku juga sering menasehatiku begitu. Aku yang kala itu sedang dalam masa pencarian minat dan jati diri.
Saat itu, di tahun terakhir masa SMK-ku, saat di mana aku mulai menentukan masa depan yang lebih serius, saat aku mulai memilih universitas dan jurusan yang akan aku tempuh setelah lulus sekolah menengah, saat itu aku seperti diketuk kepala dan hatiku. Kakak perempuan dari salah seorang temanku -yang bisa dibilang baru kenal- aku mendapat teguran lewat dia. Kala itu aku diajak oleh temanku untuk mencoba peruntungan beasiswa di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Islam di Depok. Dari namanya juga sudah tau kan pasti lingkungannya islami yang mewajibkan berpakaian agamis. Di situ aku gak keberatan untuk berhijab selama proses seleksi, mengingat aku familiar dengan pakaian tertutup saat mengaji dan jadwal sekolah seminggu sekali. Alhamdulillah aku lolos rangkaian seleksi dan mendapatkan beasiswa selama kuliah di sana (aku lupa persenannya). Sampai tiba di bagian administrasi yang mana diharuskan membayar sebagian uang pangkal saat itu juga untuk semacam jaminan gitulah. “Duh, ujian nasional aja belum masa udah harus bayar kuliah, kalo misalkan gak lulus gimana?”. Allahualam kan… Selama proses tersebut aku sering minta pendapat sama temanku dan kakak perempuannya, karena memang temanku sudah lebih dulu masuk di STIE tsb. Sampai di suatu siang yang cerah kami berbincang di rumahnya- halah!- ngobrolin tentang pakaian berhijab. Kurang lebih begini :
“Gimana, enak juga kan pakai kerudung ke mana-mana?”
“Hehe iya ka lumayan gak terlalu panas juga”
“Nah yaudah pakai tiap hari aja kalo enak”
“Ngg…..”
“Kenapa? Belum siap? Iyasih kalau nunggu siap mah kapan siapnya J
GLEK. Seketika tertegun. Entah dia sengaja atau engga, tapi aku ngerasanya dia kayak lagi iseng nyeletuk aja. Masya Allah ternyata itu jadi pikiran sampai dibawa ke rumah. Sampai beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah menengah masih suka nimbang-nimbang “berhijab gak ya? Berarti harus beli baju baru dong yg sesuai? Beli hijabnya juga”. Padahal kan bukan disitunya yang penting tapi komitmennya. Dan akhirnya setelah lebaran aku memutuskan untuk nyicil beli setu per satu pakaian dan hijab. Di situ anehnya Ibu kurang setuju sama keputusan aku dilihat dari aku yang tiba-tiba belanja. Maksud beliau pelan pelan aja berubahnya jangan langsung drastis. (dalam hati) ya ini juga pelan pelan, nyicil beli bajunya kayak punya duit banyak aja baru lulus SMK juga -_- tapi teteup dasar anaknya keras kepala kalo udah maunya ya maunya. Alhamdulillah aku mantab berhijab tepat hari pertama MOS di univesitas. ehehehe
Kenapa aku bilangnya berhijab? Karna dulu belum kenal betul makna berhijrah hahaha. Jadi saat itu mikirnya baru sebatas : “yaudah gak ada salahnya berhijab toh juga tindak-tanduk aku gak buruk buruk amat kenapa gak dilengkapin aja dan gak terlalu drastic juga perubahannya”. Di situ emang agak kePDan sih mikirnya tapi apapun itu aku bersyukur masih di kasih kesempatan untuk berubah lebih baik, masih diingatkan untuk lebih dekat lagi dengan Allah SWT, masih disayang. Belajar berhijabpun pelan-pelan, dari tahap 1,2,3 sampai syar’i. Gengs! aku belum se-sempurna itu jugak ;) Makin lama makin ke sering find something I figured out entah dari mana aja, teman, buku, sosmed, pelajaran matkul. Diantaranya :
1.   Kesiapan pakai berhijab gak nunggu kata siap. Kapanpun, lebih awal lebih baik.
2.   Hijab itu gak bisa disangkutpautkan sama prilaku baik buruknya seseorang. “Ngapain pakai hijab kalau masih ghibah, emosian, pacaran, dll yang dilarang. Dan kalau berhijab itu tandanya udah harus alim, santun, sopan, jaga jarak dan bahkan narik diri dari peredaran”. Bener gitu?
3.   Hijab sebagai identitas dan pelindung diri. Suwer, setalah berhijab jadi ngerasa lebih aman dan malu kalau ngelakuin hal-hal yang sebenarnya Allah SWT gak suka.
4.   Masih bimbang dan belum yakin, masih suka lepas pasang hijab dibilang plin-plan dan yang belum pernah berhijab jadiin itu sebagai alibi bahwa lebih baik gak berhijab dulu dari lepas pasang.
5.   Berhijab atau menutup aurat secara benar itu KEWAJIBAN bagi setiap wanita mulim yang sudah balig. Menurut hematku, berhijab sama dengan shalat. Mau seperti apapun prilaku seseorang, pekerjaannya, makanannya sekalipun diharamkan oleh Allah SWT dia tetap harus sholat dan menutup aurat, tetap menjalankan perintah-Nya. Karena aku yakin entah pada sholatnya yg mana, langkahnya yg keberapa hidayah itu akan datang PASTI. Gimana nggak, ibarat metik buah walaupun nggak bisa manjat masih bisa pakai galah, bisa dapat buahnya. Coba kalau cuma berdiri lihatin buahnya, emang buahnya bisa jatuh sendiri? Paling juga yang jatuh yang gagal panen.
Terlepas dari panjangnya cerita di atas, selain karna perkatan dari kakaknya temen, aku juga sadar bahwa amalan anak akan berpengaruh pada orang tuanya. Walaupun saat itu aku sering tengkar sama Bapak tapi aku juga gak sampai hati jadi alasan beliau masuk neraka karna anak perempuannya gak mau menutup aurat. Maha suci Allah, aku bisa bebenah diri sedikit semi sedikit dan Bapak masih sempat melihat perubahanku selama 2 tahun sebelum beliau dipanggil Allah SWT. Selebihnya gak ada alasan lagi aku gak berhijab karna memang sudah dari sananya perintahnya seperti itu. Aku yakin Allah gak akan menyusahkan umatnya lewat perintah-perintahnya. Semoga semua teman-teman mendapat hidayahnya as soon as possible, apapun bentuknya, bukan hanya berhijrah menggunakan hijab. Dan semoga aku bisa terus dan makin istiqomah, mendpaat hidayah lainnya untuk mangisi lubang-lubang yang ksoong dengan cahaya-Nya. Terimaksih juga untuk temanku Bu Velsuf dan terkhusus kakaknya, Mba Ulfa. Sadar atau ngga, percaya atau tidak kalian berhasil menggetok kepalaku :))))

Semoga bermanfaat! Because sharing is caring J


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patiently over Jealousy

Enjoy Life

Ungkapan Lama